Hy hy hy, ketemu lagi. aku mau sharing lagi nih cerpen ciptaanku sendiri. Sesuai dengan hobby ku menulis. Eh tapi maaf ya, kalo jelek
INIKAH
PERSAHABATAN YANG SESUNGGUHNYA
Delia Nursyafitri,
itulah aku. Seorang yang terlahir di bumi sriwijaya pada tanggal 15 November
1999. Saat aku masih berumur 2 tahun, aku telah dibawa merantau oleh orang
tuaku ke jambi, tepatnya di Tebing Tinggi, tempat ayahku bekerja. Disana, aku
tinggal diperkomplekan dengan mayoritas masyarakat yang individual. Tetapi,
bukan berarti di sekolah juga terterap prinsip individualisme. Di sekolah, aku
terkenal sebagai orang yang paling penakut, pemalu dan juga pendiam. Eiits tapi
jangan salah, dengan kepribadianku yang pemalu dan pendiam atau kalau kata
orang-orang hidup segan mati tak mau, aku punya sahabat. Mereka adalah Wiwied,
Jauza, dan Lucky.
Wiwied. Wiwied terlahir
dari keluarga yang berdarah jawa, yang lahir pada tanggal 15 Juni 1999. Kalau
menurutku, Wiwied adalah sosok yang paling perhatian, dan juga kalau diantara
kami berempat dialah sosok yang bisa bersikap dewasa dalam menyelesaikan
masalah. Jadi, tak perlu terlalu khawatir jika ada masalah, Karena Wiwied
selalu punya solusinya. Sedangkan Jauza, dia lahir di kota minang pada tanggal
11 April 1999, terlahir dengan kepribadian yang serupa dengan kepribadianku,
pendiam. Tapi jangan salah juga, dia punya kharisma tersendiri dalam hal
menggambar aplagi menggambar tokoh-tokoh komik Jepang, keren abis gambarnya.
Berbanding terbalik denganku yang selalu berpendapat bahwa menggambar itu
adalah hal tersuram dalam hidupku. Lucky, sahabatku yang satu ini terkenal
dengan stylenya yang tomboy, dan tak pernah tampak jiwa perempuannya
sedikitpun. Lahir di tanah deli tepat tanggal 07 April 1999 dengan penampilan
yang tak pernah ada ekspresi diwajahnya. Tak jarang kami melakukan sesuatu
hanya untuk mengubah ekspresi wajahnya, namun tak kunjung berhasil. Inilah aku,
Wiwied, Jauza dan Lucky dengan kepribadian yang berbeda-beda tak jadi halangan
buat kami tetap bersatu. “Tak Ada Kata Seindah Persahabatan” itulah kata yang
selalu keluar dari mulut kami setiap kali memulai hari.
Pagi itu udara sangat
cerah. Seperti biasa kumulai hariku dengan semangat ’45 karena aku juga tak
mau kalah dengan semangatnya matahari
yang menyinari dunia. Tapi aku bingung, sesemangat apapun aku tetap saja aku
terlihat seperti orang yang seolah tak tahu arah jalan dan tujuan. Apa iya ini
bawaan lahir? Tapi ya sudahlah, syukuri aja. Inilahh hidupku, semangat bagiku,
tapi tidak bagi orang lain. Tanpa mengulur-ngulurkan waktu, kulangkahkan kaki
ini keluar dari rumah dan duduk di teras untuk memasang sepatu. Tidak hanya
memasang sepatu, tetapi juga tak lupa kupasang niat untuk bersungguh-sungguh
belajar supaya aku bisa sukses dan mencapai cita-citaku untuk menjadi…ahh
apapun itu, aku tak tahu pasti yang jelas dibidang kesehatan. Tanpa
membuang-buang waktu lebih banyak, kupanggil ibuku dan kuulurkan tangan kananku
untuk segera pamit pergi ke sekolah. Lalu giliran ayahku yang pamit untuk
berangkat kerja. Aku berangkat bersama ayahku dengan mengendarai sepeda motor
yang sejak kecil selau membawaku pergi menyusuri jalan-jalan yang tak begitu
jauh dari rumahku yang selalu membuat hatiku riang gembira. Apalagi kalau
setelah reda jalan-jalannya, walaupun jalannya becek tapi indahnya pelangi yang
melukis langit membuatku semakin bahagia. Itulah sebabnya, setiap kali aku
membuat biodata, hobbyku yang tertera pada lembaran kertas biodata itu selalu
jalan-jalan.
Dan tibalah aku didepan
gerbang sekolah, kuulurkan kembali tangan kananku untuk berpamitan kepada
ayahku. Tak lupa ayahku meraba-raba sakunya, dan sudah kutebak ayahku memberikan
sejumlah uang kepadaku. Berapapun itu aku tak peduli, karena aku tak sabar lagi
untuk bertemu sahabat-sahabatku yang kuduga pasti sudah menungguku dikelas. Karena
seperti biasa, diantara kami berempat, akulah yang selalu terakhir sampai disekolah. Sesampainya
dikelas aku langsung disapa olaeh Wiwied, Jauza dan Lucky.
“Hy del.” ucap mereka serentak.
“Hy juga.” Jawabku
Kami pun segera
berkumpul dan berbincang-bincang sampai akhirnya pelajaran pertamapun dimulai.
Lalu bel istirahat berbunyi, hari itu menu makanan kami berempat adalah nasi
gemuk. Kami sengaja membelinya dengan ibu teman sekelas kami, Yuni. Karena
kalau kami berempat beli sama ibunya Yuni pasti dilebihin. Hehehe cari-cari
kesempatan dalam kesempitan. Setelah selesai makan, kami pun masuk kelas, dan
tak lama kemudian bel berbunyi kembali sebagai pertanda dilanjutkannya kegiatan
belajar mengajar.
Teng teng teng …
Bel berbunyi untuk
kesekian kainya, saatnya pulang. Diluar gerbang sekolah, ayahku telah menunggu
didekat pohon rindang dengan ditemani motor yang selalu siap membawaku dan
keluargaku pergi.
“Dada semuanya, aku
duluan ya. Ayahku sudah menunggu.” ucapku dengan sorot mata yang mengarah ke
ayahku seolah ingin memberitahu dimana ayahku menunggu.
“Iya aku juga duluan
ya, ibuku juga sudah jemput. Bye semua.” ucap Wiwied dan segera menghampiri
ibunya yang telah menunggu didepan gedung olahraga sebelah sekolahku.
Begitulah sekolahku,
kalau kata banyak orang tempatnya strategis. Disebelah kanan gedung olahraga,
didepannya rumah sakit, 1 km kesebelah kiri pasar. Dan begitu pulalah
hari-hariku. Tak pernah ada moment yang spesial mewarnai hariku.
Setelah kurang lebih 10
menit aku duduk dimotor sembari merasakan angin yang tak henti berhembus,
sampai juga dirumah. Ternyata pintu rumahku sedang terbuka namun taampak sepi.
Salam pun kuucapkan untuk siapapun itu yang ada dirumah. Dan yang menjawab
hanyalah ibuku.
“Assalamu
‘alaikum bu.” ucapku, lalu dengan segera kubuka sepatu dan kaos kaki dengan
aroma yang sungguh mengagumkan.
“Wa
alaikum salam.” jawab ibuku.
Dirumah,
suasana hening. Tak seperti disekolah yang riuh. Aku bingung, rasaku ada yang
aneh. Tapi kupikir wajarlah jika suasana hening, karena kedua adikku sedang
bermain diluar. Namun tak mungkin rasanya, pasti ada apa-apanya. Beribu pertanyaan
terucap dalam hati, seolah pita suaraku tak berfungsi lagi untuk bertanya
langsung kepada ibu dan ayahku.
Pertanyaan
pun terhenti karena seruan ibuku yang menyuruhku mengganti seragam sekolah yang
membuatku terkejut. Langkah demi langkah kakiku berjalan menuju kamar, ruangan
yang tak pernah ada istimewa-istimewanya sedikitpun. Setelah itu aku keluar
dengan memakai baju kaos berwarna pink dan celana pendek selutut yang juga tak
ada keistimewaannya sedikitpun. Diruang tengah, ayah dan ibuku telah menunggu.
Sepertinya ada yang dibicarakan. Tanpa diperintah, segera aku duduk disebelah
ibuku dan mengambil cemilan yang ada ditoples dekat aku duduk.
Ternyata
prakiraanku salah. Bukan karena kedua adikku yang sedang tidaka ada dirumah
yang membuat suasana rumah begitu hening. Tapi ada sesuatu yang kelihatannya
begitu penting dan harus dibicarakan saat itu juga. Tiba-tiba jantungku
berdetak kencang, hatiku dag dig dug, badanku gemetar. Apa yang akan terjadi?
Mengapa aku gelisah? Pertanda apakah ini? Hanya satu hal yang dapat menjawab
semua kegelisahanku saat itu, ibuku harus segera menceritakan apa yang
sebenarnya terjadi. 15 menit pun berlalu, semua tetap saja diam. Tak ada satu
kata pun terucap dari bibir ayah dan ibuku. Mungkin harus aku yang memulainya.
“Bu,
sebenarnya ada apa ini? Yah, ada apa? Mengapa keadaan semakin buruk?” tanyaku
dengan gelisah.
“Tadi
pagi, saat ayahmu telah berada dilokasi tempat ayahmu bekerja. Ayahmu
dikabarkan oleh temannya bahwa ia dipanggil untuk menemui atasan dikantor. Dan
kamu ta.hu apa yang dibicarakan oleh atasan ayahmu dikantor kepada ayahmu?”
tanya ibu padaku.
“Tidak
bu, memangnya apa?” dengan raut wajah gelisah seolah tak sabar mendengar
kelanjutan cerita ibu.
“Kata
atasan ayahmmu, ayahmu resmi dipindah tugaskan.” jawab ibu.
“Apa?
Dipindah tugaskan? Kemana bu? Kamana yah?” tanyaku lagi.
“Di
kab. Bayung lincir. Disana perusahaan tempat ayah bekerja membuka cadang baru.
Dan tenaga kerja ayah sangat dibutuhkan disana.” jawab ayah yang ingin
memperjelas.
“Bayung
lincir? Itu bukannya kabupaten yang ada dipalembang ya?” pertanyaan yang
kesekian kalinya.
“Iya,
itu kabupaten yang ada dipalembang. Dan otomatis kamu, ibumu dan adik-adikmu
juga harus pindah ikut ayah.” tambah ayahku.
“Pindah?
Kebayung lincir? Masa’ iya?” keluhku.
“Tidak
kebayung lincir, tapi ayah dan ibumu telah memutuskan bahwa kamu, ibumu dan
juga adikmu tinggal di Jambi. Karena walaupun kab. Bayung lincir termasuk
kabupaten yang ada dipalembang, namun jarak antara kab. Bayung lincir ke jambi
lebih dekat daripada ke Palembang.” perjelas ayahku agar keluhanku tak
berkepanjangan.
Tanpa
menjawab, aku langsung keluar rumah dan duduk diteras seraya bertanya-tanya,
apa yang akan terjadi setelah ini? Apa iya aku harus ikut pindah? Bagaimna
dengan sahabat-sahabatku? Apa mereka bisa terima? Rasanya belum siap jika aku
harus pindah dan meninggalkan sahabat-sahabatku. Kalau akunya aja belum siap,
gimana mereka? Sipakah yang mampu menjawab semua pertanyaanku. Mataharikah? Ah
rasanya tak mungkin, gimana di mau jawab, dianya aja sibuk bekerja menyinari
dunia. Bulankah? Gimana dia bisa jawab, dia aja gak tahu tentang
permasalahanku, dianya aja muncul malam. Kalau aku cerita langsung sama Wiwied,
Jauza, dan Lucky, rasanya belum siap untuk melihat mereka sedih. Wiwied, pasti
dia bisa bantuin aku. Dan aku yakin, dia akan bisa bersikap dewasa setelah tahu
hal ini. Ceritapun kumulai melalui pesan singkat dihandphone. Mulai dari
permasalahn awal sampai kegelisahanku tentang yang selanjutnya akan terjadi.
Cukup lega rasanya, setelah menceritakan semuanya pada Wiwied. Namun semuanya
tak seperti yang kuharapakan, ternyata kedewasaannya dalam menyikapi masalah
tak bisa ia lakukan saat itu. Aku
terkejut melihat balasannya yang sangat sedih dan kecewa dengan hal ini. Dan
aku tak bisa berbuat apa-apa. Tak hentinya kegelisahan menyelimuti jiwaku. Tak
pernah ada ketenangan yang kurasakan sampai kau tertidur lelap. Paginya, aku
beranngkat kesekolah tidak hanya bersama ayahku yang biasa mengantarku sekolah,
tetapi juga ibuku. Dan ibuku tidak hanya mengantarku sampai didepan gerbang
sekolha, tetapi juga ikut masuk kesekolahku dan pergi kekantor kepala sekolah
untuk mengurus surat pindahku. Sesampainya kau dikelas, tak seperti biasanya
sahabat-sahabatku tak menyambutku dengan riuh. Mereka seolah tak melihatku
masuk kelas. Sepertinya harus aku yang memulai untuk memperbaiki suasana.
“Hy
Wid, Jauza, Lucky.” sapaku.
Tak
ada satu orangpun yang menjawab. Kok
mereka semua pada diem ya, pikirku dalam hati. Jangan-jangan Wiwied udah
kasihtahu duluan sama Jauza dan Lucky tentang yang kemarin. Tapi masa’ iya,
sebegitu drastiskah perubahan Wiwied yang awalnya bisa bersikap dewasa
menyikapi masalah? Belum puas, ku sapa lagi mereka dengan satu pertanyaan.
“Hey
kalian kenapa sih? Kok aneh banget.”
“Kamu
nanya kita kenapa? Pikir aja sendiri?” jawab Jauza.
“Kok
kamu jahat banget sih, ada masalah Cuma sama Wiwied ceritanya. Kamu nganggap
kau sama Jauza atau gak sih?” tanya Lucky dengan tegas.
“Bukan
gitu maksudku, lagian Wiwied ah aneh banget. Biasanya kamu bisa menyikapi
masalah dengan baik, tapi sekarang?” tanyaku dengan intonasi yang tinggi seolah
marah.
“Kok
jadi kamu yang marah sama Wiwied sih? Kamu tuh yang aneh. Udah Wid, Lucky kita
pergi aja.” kata Jauza.
Mereka
bertiga pun pergi tanpa menghiraukanku. Memang sih wajar kalau mereka bersikap
seperti itu padaku, memang kau yang salah. Tapi ya sudahlah, mau gimana lagi?
Semuanya sudah terjadi. Setelah pulang sekolah, aku mendapat sms dari mereka
bertiga, mereka bilang mereka kecewa dengan sikapku yang seperti itu. Ditambah
lagi aku harus pindah, dan aku hanya bisa membalas sms itu dengan ucapan maaf.
Rasanya benar-benar tak pantas, jika hanya itu yang aku jawab. Tapi begiutlah
adanya. Aku tak tahu apalagi yang harus kulakukan. Tak lama kemudian, aku
mengirim sms lagi kepada Wiwied, Jauza dan Lucky.
Wiwied,
Jauza, Lucky. Aku minta maaf kalau aku salah telah bersikap seperti itu. Tapi
aku memang benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin inilah takdirnya. Kita
harus berpisah. Tapi aku yakin, suatu saat nanti kita akan bertemu kembali, dan
pertemuan itu akan menjadi moment yang paling spesial dalam hidupku. Besok
siang akku pindah, dan ku harap kalian bisa menemuiku. Aku sayang kalian semua.
Tak
ada yang membalas sms ku. Hingga akhirnya hal terburukpun terjadi. Aku
benar-benar pindah dan semua barangku telah diangkut ke mobil truck yang telah
disewa oleh ayah dan ibuku. Namun, semua keluhan itu terhenti Karena hal yang
benar-benar kuharapakan terjadi. Mereka datang menemuiku. Kami berpelukan, lalu
mulai meneteskan air mata. Air mata perpisahan yang ingin rasanya kutampung,
kusimpan dan kujaga baik-baik. Namun sayangnya, saat spesial itu tak ada Lucky.
Tapi tak lupa Lucky menitipkan salam untukku. Lalu kembali kami berpelukan
untuk kesekian kalinya dan mengucapkan kata “good bye”. Sampai saat ini
kenang-kenangan dari mereka masih tetap ada dan kusimpan. Inikah persahabatan
yang sesungguhnya.
“TAK
ADA KATA SEINDAH PERSAHABATAN”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar