Kamis, 13 Maret 2014

cerpen


Hy hy hy, ketemu lagi. aku mau sharing lagi nih cerpen ciptaanku sendiri. Sesuai dengan hobby ku menulis. Eh tapi maaf ya, kalo jelek



INIKAH PERSAHABATAN YANG SESUNGGUHNYA

Delia Nursyafitri, itulah aku. Seorang yang terlahir di bumi sriwijaya pada tanggal 15 November 1999. Saat aku masih berumur 2 tahun, aku telah dibawa merantau oleh orang tuaku ke jambi, tepatnya di Tebing Tinggi, tempat ayahku bekerja. Disana, aku tinggal diperkomplekan dengan mayoritas masyarakat yang individual. Tetapi, bukan berarti di sekolah juga terterap prinsip individualisme. Di sekolah, aku terkenal sebagai orang yang paling penakut, pemalu dan juga pendiam. Eiits tapi jangan salah, dengan kepribadianku yang pemalu dan pendiam atau kalau kata orang-orang hidup segan mati tak mau, aku punya sahabat. Mereka adalah Wiwied, Jauza, dan Lucky.
Wiwied. Wiwied terlahir dari keluarga yang berdarah jawa, yang lahir pada tanggal 15 Juni 1999. Kalau menurutku, Wiwied adalah sosok yang paling perhatian, dan juga kalau diantara kami berempat dialah sosok yang bisa bersikap dewasa dalam menyelesaikan masalah. Jadi, tak perlu terlalu khawatir jika ada masalah, Karena Wiwied selalu punya solusinya. Sedangkan Jauza, dia lahir di kota minang pada tanggal 11 April 1999, terlahir dengan kepribadian yang serupa dengan kepribadianku, pendiam. Tapi jangan salah juga, dia punya kharisma tersendiri dalam hal menggambar aplagi menggambar tokoh-tokoh komik Jepang, keren abis gambarnya. Berbanding terbalik denganku yang selalu berpendapat bahwa menggambar itu adalah hal tersuram dalam hidupku. Lucky, sahabatku yang satu ini terkenal dengan stylenya yang tomboy, dan tak pernah tampak jiwa perempuannya sedikitpun. Lahir di tanah deli tepat tanggal 07 April 1999 dengan penampilan yang tak pernah ada ekspresi diwajahnya. Tak jarang kami melakukan sesuatu hanya untuk mengubah ekspresi wajahnya, namun tak kunjung berhasil. Inilah aku, Wiwied, Jauza dan Lucky dengan kepribadian yang berbeda-beda tak jadi halangan buat kami tetap bersatu. “Tak Ada Kata Seindah Persahabatan” itulah kata yang selalu keluar dari mulut kami setiap kali memulai hari.
Pagi itu udara sangat cerah. Seperti biasa kumulai hariku dengan semangat ’45 karena aku juga tak mau  kalah dengan semangatnya matahari yang menyinari dunia. Tapi aku bingung, sesemangat apapun aku tetap saja aku terlihat seperti orang yang seolah tak tahu arah jalan dan tujuan. Apa iya ini bawaan lahir? Tapi ya sudahlah, syukuri aja. Inilahh hidupku, semangat bagiku, tapi tidak bagi orang lain. Tanpa mengulur-ngulurkan waktu, kulangkahkan kaki ini keluar dari rumah dan duduk di teras untuk memasang sepatu. Tidak hanya memasang sepatu, tetapi juga tak lupa kupasang niat untuk bersungguh-sungguh belajar supaya aku bisa sukses dan mencapai cita-citaku untuk menjadi…ahh apapun itu, aku tak tahu pasti yang jelas dibidang kesehatan. Tanpa membuang-buang waktu lebih banyak, kupanggil ibuku dan kuulurkan tangan kananku untuk segera pamit pergi ke sekolah. Lalu giliran ayahku yang pamit untuk berangkat kerja. Aku berangkat bersama ayahku dengan mengendarai sepeda motor yang sejak kecil selau membawaku pergi menyusuri jalan-jalan yang tak begitu jauh dari rumahku yang selalu membuat hatiku riang gembira. Apalagi kalau setelah reda jalan-jalannya, walaupun jalannya becek tapi indahnya pelangi yang melukis langit membuatku semakin bahagia. Itulah sebabnya, setiap kali aku membuat biodata, hobbyku yang tertera pada lembaran kertas biodata itu selalu jalan-jalan.
Dan tibalah aku didepan gerbang sekolah, kuulurkan kembali tangan kananku untuk berpamitan kepada ayahku. Tak lupa ayahku meraba-raba sakunya, dan sudah kutebak ayahku memberikan sejumlah uang kepadaku. Berapapun itu aku tak peduli, karena aku tak sabar lagi untuk bertemu sahabat-sahabatku yang kuduga pasti sudah menungguku dikelas. Karena seperti biasa, diantara kami berempat, akulah yang  selalu terakhir sampai disekolah. Sesampainya dikelas aku langsung disapa olaeh Wiwied, Jauza dan Lucky.
“Hy del.”  ucap mereka serentak.
“Hy juga.” Jawabku
Kami pun segera berkumpul dan berbincang-bincang sampai akhirnya pelajaran pertamapun dimulai. Lalu bel istirahat berbunyi, hari itu menu makanan kami berempat adalah nasi gemuk. Kami sengaja membelinya dengan ibu teman sekelas kami, Yuni. Karena kalau kami berempat beli sama ibunya Yuni pasti dilebihin. Hehehe cari-cari kesempatan dalam kesempitan. Setelah selesai makan, kami pun masuk kelas, dan tak lama kemudian bel berbunyi kembali sebagai pertanda dilanjutkannya kegiatan belajar mengajar.
Teng teng teng …
Bel berbunyi untuk kesekian kainya, saatnya pulang. Diluar gerbang sekolah, ayahku telah menunggu didekat pohon rindang dengan ditemani motor yang selalu siap membawaku dan keluargaku pergi.
“Dada semuanya, aku duluan ya. Ayahku sudah menunggu.” ucapku dengan sorot mata yang mengarah ke ayahku seolah ingin memberitahu dimana ayahku menunggu.
“Iya aku juga duluan ya, ibuku juga sudah jemput. Bye semua.” ucap Wiwied dan segera menghampiri ibunya yang telah menunggu didepan gedung olahraga sebelah sekolahku.
Begitulah sekolahku, kalau kata banyak orang tempatnya strategis. Disebelah kanan gedung olahraga, didepannya rumah sakit, 1 km kesebelah kiri pasar. Dan begitu pulalah hari-hariku. Tak pernah ada moment yang spesial mewarnai hariku.
Setelah kurang lebih 10 menit aku duduk dimotor sembari merasakan angin yang tak henti berhembus, sampai juga dirumah. Ternyata pintu rumahku sedang terbuka namun taampak sepi. Salam pun kuucapkan untuk siapapun itu yang ada dirumah. Dan yang menjawab hanyalah ibuku.
“Assalamu ‘alaikum bu.” ucapku, lalu dengan segera kubuka sepatu dan kaos kaki dengan aroma yang sungguh mengagumkan.
“Wa alaikum salam.” jawab ibuku.
Dirumah, suasana hening. Tak seperti disekolah yang riuh. Aku bingung, rasaku ada yang aneh. Tapi kupikir wajarlah jika suasana hening, karena kedua adikku sedang bermain diluar. Namun tak mungkin rasanya, pasti ada apa-apanya. Beribu pertanyaan terucap dalam hati, seolah pita suaraku tak berfungsi lagi untuk bertanya langsung kepada ibu dan ayahku.
Pertanyaan pun terhenti karena seruan ibuku yang menyuruhku mengganti seragam sekolah yang membuatku terkejut. Langkah demi langkah kakiku berjalan menuju kamar, ruangan yang tak pernah ada istimewa-istimewanya sedikitpun. Setelah itu aku keluar dengan memakai baju kaos berwarna pink dan celana pendek selutut yang juga tak ada keistimewaannya sedikitpun. Diruang tengah, ayah dan ibuku telah menunggu. Sepertinya ada yang dibicarakan. Tanpa diperintah, segera aku duduk disebelah ibuku dan mengambil cemilan yang ada ditoples dekat aku duduk.
Ternyata prakiraanku salah. Bukan karena kedua adikku yang sedang tidaka ada dirumah yang membuat suasana rumah begitu hening. Tapi ada sesuatu yang kelihatannya begitu penting dan harus dibicarakan saat itu juga. Tiba-tiba jantungku berdetak kencang, hatiku dag dig dug, badanku gemetar. Apa yang akan terjadi? Mengapa aku gelisah? Pertanda apakah ini? Hanya satu hal yang dapat menjawab semua kegelisahanku saat itu, ibuku harus segera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. 15 menit pun berlalu, semua tetap saja diam. Tak ada satu kata pun terucap dari bibir ayah dan ibuku. Mungkin harus aku yang memulainya.
“Bu, sebenarnya ada apa ini? Yah, ada apa? Mengapa keadaan semakin buruk?” tanyaku dengan gelisah.
“Tadi pagi, saat ayahmu telah berada dilokasi tempat ayahmu bekerja. Ayahmu dikabarkan oleh temannya bahwa ia dipanggil untuk menemui atasan dikantor. Dan kamu ta.hu apa yang dibicarakan oleh atasan ayahmu dikantor kepada ayahmu?” tanya ibu padaku.
“Tidak bu, memangnya apa?” dengan raut wajah gelisah seolah tak sabar mendengar kelanjutan cerita ibu.
“Kata atasan ayahmmu, ayahmu resmi dipindah tugaskan.” jawab ibu.
“Apa? Dipindah tugaskan? Kemana bu? Kamana yah?” tanyaku lagi.
“Di kab. Bayung lincir. Disana perusahaan tempat ayah bekerja membuka cadang baru. Dan tenaga kerja ayah sangat dibutuhkan disana.” jawab ayah yang ingin memperjelas.
“Bayung lincir? Itu bukannya kabupaten yang ada dipalembang ya?” pertanyaan yang kesekian kalinya.
“Iya, itu kabupaten yang ada dipalembang. Dan otomatis kamu, ibumu dan adik-adikmu juga harus pindah ikut ayah.” tambah ayahku.
“Pindah? Kebayung lincir? Masa’ iya?” keluhku.
“Tidak kebayung lincir, tapi ayah dan ibumu telah memutuskan bahwa kamu, ibumu dan juga adikmu tinggal di Jambi. Karena walaupun kab. Bayung lincir termasuk kabupaten yang ada dipalembang, namun jarak antara kab. Bayung lincir ke jambi lebih dekat daripada ke Palembang.” perjelas ayahku agar keluhanku tak berkepanjangan.
Tanpa menjawab, aku langsung keluar rumah dan duduk diteras seraya bertanya-tanya, apa yang akan terjadi setelah ini? Apa iya aku harus ikut pindah? Bagaimna dengan sahabat-sahabatku? Apa mereka bisa terima? Rasanya belum siap jika aku harus pindah dan meninggalkan sahabat-sahabatku. Kalau akunya aja belum siap, gimana mereka? Sipakah yang mampu menjawab semua pertanyaanku. Mataharikah? Ah rasanya tak mungkin, gimana di mau jawab, dianya aja sibuk bekerja menyinari dunia. Bulankah? Gimana dia bisa jawab, dia aja gak tahu tentang permasalahanku, dianya aja muncul malam. Kalau aku cerita langsung sama Wiwied, Jauza, dan Lucky, rasanya belum siap untuk melihat mereka sedih. Wiwied, pasti dia bisa bantuin aku. Dan aku yakin, dia akan bisa bersikap dewasa setelah tahu hal ini. Ceritapun kumulai melalui pesan singkat dihandphone. Mulai dari permasalahn awal sampai kegelisahanku tentang yang selanjutnya akan terjadi. Cukup lega rasanya, setelah menceritakan semuanya pada Wiwied. Namun semuanya tak seperti yang kuharapakan, ternyata kedewasaannya dalam menyikapi masalah tak bisa ia lakukan saat  itu. Aku terkejut melihat balasannya yang sangat sedih dan kecewa dengan hal ini. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Tak hentinya kegelisahan menyelimuti jiwaku. Tak pernah ada ketenangan yang kurasakan sampai kau tertidur lelap. Paginya, aku beranngkat kesekolah tidak hanya bersama ayahku yang biasa mengantarku sekolah, tetapi juga ibuku. Dan ibuku tidak hanya mengantarku sampai didepan gerbang sekolha, tetapi juga ikut masuk kesekolahku dan pergi kekantor kepala sekolah untuk mengurus surat pindahku. Sesampainya kau dikelas, tak seperti biasanya sahabat-sahabatku tak menyambutku dengan riuh. Mereka seolah tak melihatku masuk kelas. Sepertinya harus aku yang memulai untuk memperbaiki suasana.
“Hy Wid, Jauza, Lucky.” sapaku.
Tak ada  satu orangpun yang menjawab. Kok mereka semua pada diem ya, pikirku dalam hati. Jangan-jangan Wiwied udah kasihtahu duluan sama Jauza dan Lucky tentang yang kemarin. Tapi masa’ iya, sebegitu drastiskah perubahan Wiwied yang awalnya bisa bersikap dewasa menyikapi masalah? Belum puas, ku sapa lagi mereka dengan satu pertanyaan.
“Hey kalian kenapa sih? Kok aneh banget.”
“Kamu nanya kita kenapa? Pikir aja sendiri?” jawab Jauza.
“Kok kamu jahat banget sih, ada masalah Cuma sama Wiwied ceritanya. Kamu nganggap kau sama Jauza atau gak sih?” tanya Lucky dengan tegas.
“Bukan gitu maksudku, lagian Wiwied ah aneh banget. Biasanya kamu bisa menyikapi masalah dengan baik, tapi sekarang?” tanyaku dengan intonasi yang tinggi seolah marah.
“Kok jadi kamu yang marah sama Wiwied sih? Kamu tuh yang aneh. Udah Wid, Lucky kita pergi aja.” kata Jauza.
Mereka bertiga pun pergi tanpa menghiraukanku. Memang sih wajar kalau mereka bersikap seperti itu padaku, memang kau yang salah. Tapi ya sudahlah, mau gimana lagi? Semuanya sudah terjadi. Setelah pulang sekolah, aku mendapat sms dari mereka bertiga, mereka bilang mereka kecewa dengan sikapku yang seperti itu. Ditambah lagi aku harus pindah, dan aku hanya bisa membalas sms itu dengan ucapan maaf. Rasanya benar-benar tak pantas, jika hanya itu yang aku jawab. Tapi begiutlah adanya. Aku tak tahu apalagi yang harus kulakukan. Tak lama kemudian, aku mengirim sms lagi kepada Wiwied, Jauza dan Lucky.
Wiwied, Jauza, Lucky. Aku minta maaf kalau aku salah telah bersikap seperti itu. Tapi aku memang benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin inilah takdirnya. Kita harus berpisah. Tapi aku yakin, suatu saat nanti kita akan bertemu kembali, dan pertemuan itu akan menjadi moment yang paling spesial dalam hidupku. Besok siang akku pindah, dan ku harap kalian bisa menemuiku. Aku sayang kalian semua.
Tak ada yang membalas sms ku. Hingga akhirnya hal terburukpun terjadi. Aku benar-benar pindah dan semua barangku telah diangkut ke mobil truck yang telah disewa oleh ayah dan ibuku. Namun, semua keluhan itu terhenti Karena hal yang benar-benar kuharapakan terjadi. Mereka datang menemuiku. Kami berpelukan, lalu mulai meneteskan air mata. Air mata perpisahan yang ingin rasanya kutampung, kusimpan dan kujaga baik-baik. Namun sayangnya, saat spesial itu tak ada Lucky. Tapi tak lupa Lucky menitipkan salam untukku. Lalu kembali kami berpelukan untuk kesekian kalinya dan mengucapkan kata “good bye”. Sampai saat ini kenang-kenangan dari mereka masih tetap ada dan kusimpan. Inikah persahabatan yang sesungguhnya.

“TAK ADA KATA SEINDAH PERSAHABATAN”
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar