Sabtu, 15 Maret 2014



Pemberontakan G 30 S/PKI dan cara penumpasan
Latar Belakang
Partai Komunis Indonesia mengalami kemunduran setelah mengalami kegagalan dalam pemberontakan di Kota Madiun. Akan tetapi, setelah D.N Aidit menjadi ketua PKI pada tahun 1951, PKI berkembang pesat bahkan menjadi salah satu partai pemenang Pemilu 1955. Pada masa Demokrasi Terpimpin, PKI semakain bertambah kuat dengan adanya gagasan NASAKOM dari presiden Seokarno. Pada akhir tahun 1963, PKI melakukan gerakan sepihak diantaranya Peristiwa Jengkol, Peristiwa Indramayu, Peristiwa Kanigoro dan Peristiwa Bandar Betsi yang berupa penyerobotan tanah perkebunan. PKI melakukan kampanye melawan tujuh setan desa yaitu tuan tanah, tukang ijon, kapitalis birokrat (kabir), bandit desa dan pemungut zakat. Kempanye dilakukan guna mendapatkan simpati dan dukungan dari rakyat.
Dalam usaha menyusun kekuatan dan merebut kekuasaan, PKI melakukan kegiatan sebagai berikut:
Membentuk Biro Khusus dipimpin Syam Kamaruzman. Tugas Biro Khusus adalah merancang dan mempersiapkan perebutan kekuasaan dengan cara infiltrasi ke dalam tubuh ABRI, organisasi politik dan organisasi massa.
Menuntut dibentuknya angkatan ke-5 yang terdiri dari buruh dan tani yang dipersenjatai.
Melakukan latihan militer di Lubang Buaya. Secara militer gerakan 30 September 1965 dipimpin oleh Kolonel Untung, Komandan Batalyon I Resimen Cakarabirawa (pengawal Presiden)
Membentuk Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang ingin menanamkan pengaruh PKI dalam bidang budaya. Sementara pihak yang bertentangan dengan PKI membentuk Manifes Kebudayaan (Manikebu).
Melakukan aksi fitnah terhadap ABRI khususnya TNI-AD dengan melancarkan isu Dewan Jenderal yang akan memberontak. Selain itu terdapat dokumen Gilchrist yang berisi adanya kerjasama antara TNI-AD dengan CIA dan Inggris.
Jalan pemberontakan
Gerakan 30 September dimulai pada dini hari, tanggal 1 Oktober, yakni menculik dan membunuh enam perwira tinggi angkatan darat. Korban kemudian dibawa di desa Lubang Buaya dan dimasukan ke dalam sumur tua kemudian ditimbun dengan sampah dan tanah. keenam perwira tinggi yang dibunuh adalah:
Letnan Jenderal Ahmad Yani
Mayor Jenderal R. Suprapto
Mayor Jenderal M.T Haryono
Mayor Jenderal S. Parman
BrigadirJenderal  D.I. Panjaitan
Brigadir Jenderal Soetoyo Siswomiharjo
Jenderal Abdul Haris Nasution, Menteri Perahanan dan Keamanan berhasil meloloskan diri. Akan tetapi putri beliau, Irma Suryani Nasution tewas akibat tertembak para penculik. Letnan Satu Pierre Tendean, ajudan Jenderal Nasution juga menjadi korban beserta Brigadri Polisi Karel Satsuit Tubun, pengawal rumah wakil Perdana Menteri II, Dr. J. Leimena. Peristiwa pembunuhan lainnya terjadi di Yopgyakarta, korban yang terbunuh adalah Kolonel Katamso dan Letnan Kolonel Sugiyono.
Pada tanggal 1 Oktober pukul 07.20, Kolonel Untung menyiarkan pengumuman melalui RRI bahwa telah terjadi Gerakan 30 September  yang bertujuan menghancurkan Dewan Jenderal yang akan merebut kekuasaan presiden Soekarno.
 Penyelesaian
Mayor Jenderal Soeharto selaku Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (KOSTRAD) mengambil alih komando AD karena belum ada kepastian mengenai keadaan Jenderal Ahmad Yani yang menjabat sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat. Langkah pertama yang diambil adalah merebut studio RRI Pusat dan Kantor PN Telekomunikasi. Pada pukul 17.20 pasukan RPKAD dibawah pimpinan Kolonel Inf. Sarwo Edhie Wibowo berhasil menguassai objek vital tersebut.
Selanjunya Mayor Jenderal Soeharto melauli RRI mengeluarkan pengumuman yang menyatakan:
Gerakan 30 September adalah suatu ppemberontakan
Enam perwira AD telah diculik
Presiden Seokarno dalam keadaan aman
Rakyat tetap diminta tenang dan waspada.
Pada tanggal 2 Oktober 1965, Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma berhasil dikuasai. Atas petunjuk dari Ajudan Brigadir Polisi Sukitman pada tanggal 3 Oktober ditemukan tempat penguburan para periwara AD yang dibunuh. Semua korban kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata kemudian dianugerahi Pahlawan Revolusi. Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai hari kesaktian Pancasila.
Operasi pembersihan terus dilakukan, seorang demi seorang tokoh PKI berhasil ditangkap. Kolonel Latif dan Kolonel Untung berhasil ditangkap, sedangkan D.N Aidit tertembak mati pada tanggal 24 November 1965 di Surakarta. Pada akhirnya pemberontakan PKI berhasil dipadamkan atas kerjasama antara tentara AD dengan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar